Kupang, 20 Juni 2025 – Sebanyak 45 mahasiswa semester II Prodi D3 Keperawatan STIKes Maranatha Kupang mengikuti kegiatan Study Tour Mata Kuliah Management Patient Safety (MPS) di RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran inovatif yang dirancang untuk memperkuat pemahaman mahasiswa tentang penerapan prinsip keselamatan pasien di dunia nyata.
Rombongan mahasiswa didampingi oleh Koordinator Mata Kuliah MPS, Stefania Efenhilda Tefa, S.Kep.,Ns.,M.Kep, bersama para dosen pembimbing: Yohana T. Setu, S.Kep.,Ns.,M.Kep; Meryano Misa, S.Kep.,Ns; Venida B. Lakapu, S.Kep.,Ns; dan Kurnia B. Y. Pellondou, S.Kep.,Ns.,M.Kes.
Kehadiran rombongan disambut hangat oleh Eiren C. Bilaut, S.Kep.,Ns, selaku Kepala Bidang Keperawatan dan Kebidanan RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, bersama tim dari Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI).
“Kegiatan seperti ini sangat penting karena bisa mengenalkan mahasiswa pada sistem kerja rumah sakit secara langsung, khususnya mengenai penerapan sistem keselamatan pasien. Tidak banyak kampus yang melakukan hal ini,” ungkap Eiren. Ia pun berharap kegiatan ini memberi manfaat nyata dalam membentuk karakter profesional para calon perawat.

Selama dua hari, mahasiswa menjalani lima sesi utama yang mencakup teori dan praktik langsung, antara lain:
- Pengenalan dan praktik Early Warning Score (EWS) untuk identifikasi dini kondisi kritis pasien.
- Pembelajaran di ruang CSSD, termasuk dekontaminasi, sterilisasi, dan pengemasan alat medis.
- Kunjungan ke ruang kemoterapi, dengan simulasi penggunaan APD dan praktik cuci tangan steril.
- Observasi di ruang isolasi, untuk memahami manajemen pasien dengan infeksi menular dan risiko jatuh.
- Kunjungan ke Poli Onkologi, guna mengenal sistem pelayanan kemoterapi harian.
Koordinator mata kuliah MPS, Stefania Efenhilda Tefa, menjelaskan bahwa program study tour ini telah dilaksanakan secara rutin sejak 2023 sebagai bentuk inovasi pembelajaran berbasis pengalaman nyata.
“MPS bukan hanya tentang teori, tapi juga tentang membentuk cara berpikir dan bertindak aman dalam memberikan pelayanan kesehatan. Ini bekal penting sebelum mahasiswa terjun ke praktik klinik semester depan,” ujarnya.
Salah satu peserta, Yalin Mone, mengungkapkan pengalamannya yang berkesan saat mengunjungi ruang kemoterapi. Meski awalnya gugup menggunakan APD lengkap, ia merasa lega karena berhasil menjalani simulasi dengan baik.
“Awalnya takut, tapi ternyata semua jadi lebih mudah setelah dicoba. Saya jadi lebih percaya diri menghadapi praktik klinik nanti,” katanya antusias.
Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman akademik mahasiswa, tetapi juga membentuk sikap profesional, kedisiplinan, serta kepekaan terhadap keselamatan pasien sebagai inti dari pelayanan keperawatan.
Penulis: Saverinus Suhardin





