Kupang – Sebanyak 25 mahasiswa STIKES Maranatha Kupang resmi dilepas untuk mengikuti Program Gerakan NTT Tuntas Stunting dan Kemiskinan (GENTASKIN) Batch II Tahun 2026. Melalui tema “Melayani dengan Ilmu, Menguatkan dengan Kasih, Berdampak bagi Masyarakat”, pelepasan tersebut menjadi penanda komitmen institusi dalam menghadirkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata bagi persoalan kesehatan dan sosial di tengah masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Aula STIKES Maranatha Kupang, Senin (6/7/2026), dihadiri Ketua STIKES Maranatha Kupang Awaliyah M. Suwetty, S.Kep., Ns., M.Kep., jajaran pimpinan, para ketua lembaga, ketua program studi, dosen, serta mahasiswa peserta Program GENTASKIN.
Program GENTASKIN merupakan bagian dari Program Mahasiswa Berdampak yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui LLDIKTI Wilayah XV sebagai bentuk keterlibatan aktif mahasiswa dalam mendukung percepatan penurunan stunting dan pengentasan kemiskinan di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tahun ini program tersebut melibatkan sekitar 2.319 mahasiswa dari 41 perguruan tinggi yang akan mengabdi di 100 desa pada 13 kabupaten di NTT.
Dalam laporannya, Wakil Ketua I Bidang Akademik STIKES Maranatha Kupang, Flavianus Riantiarno, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan bahwa keikutsertaan STIKES Maranatha Kupang dalam Program GENTASKIN merupakan implementasi nyata kebijakan mahasiswa belajar dan bekerja di luar kampus, sekaligus mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Perguruan Tinggi, khususnya IKU 5.
“Ini juga wujud nyata dari slogan Kemdiktisaintek Berdampak, Kampus Berdampak, atau STIKES Maranatha Kupang Berdampak,” ujarnya.
Flavianus menjelaskan bahwa pelaksanaan Program GENTASKIN di STIKES Maranatha Kupang diawali dengan proses sosialisasi, dilanjutkan seleksi mahasiswa peserta serta penetapan dosen pembimbing lapangan.
Dari seluruh pendaftar, akhirnya terpilih 25 mahasiswa yang akan melaksanakan pengabdian masyarakat di 14 desa yang tersebar di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Alor.
Menurutnya, seluruh peserta juga telah mengikuti pembekalan intensif selama tiga hari yang difasilitasi oleh LLDIKTI Wilayah XV. Selanjutnya mereka akan bergabung dalam tim kolaboratif bersama mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lain di NTT sehingga memperoleh pengalaman bekerja lintas disiplin ilmu dan lintas institusi sejak dini.
Ia menambahkan bahwa Program GENTASKIN bukan hanya menjadi aktivitas pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran mahasiswa. Karena itu, peserta akan memperoleh pengakuan akademik melalui mekanisme konversi SKS sesuai ketentuan yang berlaku di perguruan tinggi, sekaligus memperoleh rekognisi dalam Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).
Flavianus mengatakan, program tersebut akan berlangsung hingga 31 Agustus 2026. Mahasiswa yang ditempatkan di Kabupaten Alor dijadwalkan berangkat pada 7 Juli 2026, sedangkan peserta yang bertugas di Kabupaten Timor Tengah Selatan akan diberangkatkan pada 9 Juli 2026.

Sementara itu, Ketua STIKES Maranatha Kupang, Awaliyah M. Suwetty, S.Kep., Ns., M.Kep., mengungkapkan rasa syukur dan bangganya karena tahun ini menjadi kali pertama STIKES Maranatha Kupang dipercaya mengikuti Program GENTASKIN Batch II.
Ia menyampaikan apresiasi kepada Wakil Ketua I beserta seluruh panitia yang telah bekerja sejak tahap sosialisasi, seleksi peserta hingga pelaksanaan acara pelepasan.
“Terima kasih kepada 25 anak mahasiswa yang meluangkan waktu dan membawa nama institusi ke rekan-rekan perguruan tinggi lain dalam program yang luar biasa ini,” ujarnya.
Awaliyah menegaskan bahwa Program GENTASKIN memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa, baik dari sisi pengalaman belajar maupun pengembangan kompetensi. Selain memperoleh hak konversi mata kuliah, mahasiswa juga akan memiliki pengalaman pengabdian berskala nasional yang akan menjadi nilai tambah dalam Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).
“Ini kegiatan berskala nasional yang bisa menambah portofolio mahasiswa di SKPI nanti saat lulus,” katanya.
Pada kesempatan itu, Awaliyah juga menyampaikan terima kasih kepada Yayasan Maranatha NTT atas dukungan penuh terhadap pelaksanaan Program GENTASKIN. Ia menjelaskan bahwa Ketua Yayasan Maranatha NTT, Alfriets Selan, semula berencana hadir dan melepas mahasiswa secara langsung. Namun karena agenda mendadak, prosesi pelepasan akhirnya dilakukan oleh pimpinan STIKES Maranatha Kupang bersama jajaran.
Menjelang keberangkatan mahasiswa, Awaliyah berpesan agar seluruh peserta menjaga kesehatan, menaati etika selama berada di lokasi pengabdian, menghormati budaya masyarakat setempat, serta membawa nilai-nilai kasih yang menjadi identitas STIKES Maranatha Kupang.
“Tolong itu jas ungu berkibar di antara warna jas almamater kampus lain. Kami percaya ada banyak hal positif yang bisa diperoleh dari sana. Jaga nama baik STIKES Maranatha Kupang dan wartakan kampus kita melalui kerja-kerja positif di tengah masyarakat. Bawa ilmu, jaga etika dan attitude,” pesannya.
Selama kurang lebih dua bulan pelaksanaan program, mahasiswa STIKES Maranatha Kupang akan berkolaborasi dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi dalam menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari edukasi kesehatan dan gizi, pencegahan stunting, pemberdayaan ekonomi keluarga, peningkatan sanitasi lingkungan, literasi masyarakat, hingga penguatan kelembagaan desa sesuai kebutuhan masing-masing wilayah sasaran.
Melalui keterlibatan tersebut, STIKES Maranatha Kupang berharap kehadiran mahasiswa tidak hanya menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar kampus, tetapi juga mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat kolaborasi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan daerah di Nusa Tenggara Timur.





