Kupang – Sebanyak 40 mahasiswa semester II Program Studi Diploma III Keperawatan STIKES Maranatha Kupang (PROD3K STIKMA) resmi mengikuti Capping Day dan Ucap Janji Kepaniteraan yang mengusung tema “Melayani dengan Ilmu, Menguatkan dengan Kasih”, Rabu (22/7/2026). Prosesi sakral tersebut menjadi penanda kesiapan mahasiswa memasuki tahap praktik klinik di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Kegiatan berlangsung khidmat dengan dihadiri Ketua STIKES Maranatha Kupang Awaliyah M. Suwetty, S.Kep., Ns., M.Kep., jajaran pimpinan institusi, para ketua program studi, dosen, tenaga kependidikan, serta tamu undangan. Turut hadir pula tiga rohaniawan dari agama Kristen Protestan, Katolik, dan Islam yang menyaksikan sekaligus mengukuhkan Janji Kepaniteraan mahasiswa.

Acara diawali dengan prosesi masuk 40 peserta Capping Day yang diikuti barisan pimpinan institusi, Ketua Program Studi, dan dosen PROD3K STIKMA. Prosesi semakin bermakna dengan kehadiran seorang mahasiswa yang mengenakan busana menyerupai Florence Nightingale, tokoh pelopor keperawatan modern, sambil membawa lentera yang menyala sebagai simbol terang pelayanan dan pengabdian.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars STIKES Maranatha Kupang, kemudian laporan Ketua Panitia, Venida B. Lak’apu, S.Kep., Ns. Venida dalam laporannya menjelaskan bahwa Capping Day dan Ucap Janji Kepaniteraan merupakan tahapan penting dalam perjalanan pendidikan mahasiswa keperawatan. Setelah menyelesaikan pembelajaran dasar keperawatan di laboratorium keterampilan dan perkuliahan, mahasiswa kini memasuki fase praktik klinik di rumah sakit, puskesmas, maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.
Menurutnya, tahap tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan klinis, kemampuan berpikir kritis, komunikasi terapeutik, serta sikap profesional dalam memberikan asuhan keperawatan yang aman, bermutu, dan berpusat pada pasien.
“Prosesi Capping Day menjadi lambang pengabdian, kepedulian, disiplin, dan profesionalisme seorang perawat. Sedangkan melalui Ucap Janji Kepaniteraan, mahasiswa menyatakan komitmennya untuk melaksanakan praktik klinik dengan penuh integritas, menjunjung tinggi kode etik profesi, menjaga kerahasiaan pasien, menghormati hak setiap individu, serta mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan pasien,” ujarnya.

Simbol Kesiapan Menjadi Calon Perawat Profesional
Prosesi inti diawali dengan pemasangan “cap” kepada mahasiswi oleh Ketua STIKES Maranatha Kupang, sementara penyematan “nametag” kepada mahasiswa dilakukan oleh Ketua Program Studi D-III Keperawatan. Kedua prosesi tersebut menjadi simbol bahwa mahasiswa telah siap memasuki dunia praktik klinik sebagai calon perawat profesional.

Suasana semakin mengharukan saat prosesi penyalaan lilin dilaksanakan. Satu per satu peserta menyalakan lilin mereka dari lentera yang dibawa sosok Florence Nightingale. Di saat yang sama, dosen PROD3K STIKMA, Merry Misa, membacakan sejarah singkat Florence Nightingale sebagai pelopor keperawatan modern yang dikenal dengan julukan The Lady with the Lamp karena dedikasinya merawat para prajurit yang terluka sambil membawa lampu di malam hari. Prosesi tersebut menjadi simbol bahwa semangat pelayanan, kasih, dan pengabdian Florence Nightingale akan terus diwariskan kepada generasi perawat masa kini.

Selanjutnya, mahasiswa mengucapkan Janji Kepaniteraan yang dipandu oleh mahasiswa Afdal. Prosesi berlangsung khidmat dengan melibatkan tiga perwakilan mahasiswa dari agama Kristen Protestan, Katolik, dan Islam yang didampingi masing-masing rohaniawan. Setelah pembacaan janji, ketiga rohaniawan secara bergantian melakukan pengukuhan, yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan naskah Janji Kepaniteraan.
Pesan Menjadi Perawat yang Ramah, Beretika, dan Profesional
Sambutan Ketua STIKES Maranatha Kupang disampaikan oleh Wakil Ketua I Bidang Akademik, Flavianus Riantiarno, S.Kep., Ns., M.Kep. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yang telah mencapai salah satu tonggak penting dalam proses pendidikan keperawatan. Ia juga memberikan apresiasi kepada PROD3K STIKMA yang dinilai telah mempersiapkan mahasiswa dengan baik sebelum memasuki praktik klinik.
Ia kemudian berpesan agar mahasiswa senantiasa menjaga sikap profesional selama menjalani praktik.
“Tetaplah memberikan senyum dalam setiap kesempatan, gunakan telepon genggam secara bijaksana selama praktik, serta jagalah etika profesi dengan baik. Hal-hal sederhana tersebut akan sangat menentukan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien,” pesannya.

Ditutup dengan Ibadah Syukur
Rangkaian kegiatan ditutup dengan Ibadah Syukur yang dipimpin oleh Pdt. Deazsy A. Liu-Tatengkeng, S.Si., M.A. Dalam khotbah bertema “Berjalan Bersama Arsitek Masa Depan” yang diambil dari Yeremia 29:11–12, ia mengajak mahasiswa untuk menyerahkan masa depan kepada Tuhan.
Pdt. Deazsy menyoroti fenomena yang banyak dialami generasi muda saat ini, yaitu quarter-life crisis atau krisis seperempat abad. Menurutnya, kondisi tersebut ditandai dengan kecemasan berlebihan, kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain, hingga kebingungan dalam menentukan arah hidup.

Ia mengingatkan bahwa manusia sering kali terlalu sibuk memikirkan segala sesuatu sehingga mudah merasa lelah dan cemas. Karena itu, mahasiswa diajak untuk semakin dekat dengan Tuhan sebagai “Arsitek Masa Depan” yang memiliki rancangan terbaik bagi setiap orang.
“Rancangan Tuhan bukanlah rancangan kecelakaan, melainkan rancangan damai sejahtera,” tegasnya.
Momen yang Tak Terlupakan
Bagi para peserta, Capping Day bukan sekadar seremoni, melainkan titik awal memasuki dunia profesi keperawatan. Salah seorang peserta, Dewanti Tapatab, mengaku merasa haru dan bangga dapat mencapai tahapan tersebut bersama teman-temannya.
“Saya merasa sangat haru dan bangga karena bisa sampai pada titik ini. Bukan karena kami hebat, tetapi karena doa dan dukungan orang tua serta Bapak dan Ibu Dosen yang terus membimbing kami,” ungkapnya.

Menurut Dewanti, momen saat topi perawat disematkan menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan. Ia menyadari bahwa profesi perawat bukan hanya tentang mengenakan seragam putih, tetapi juga memikul tanggung jawab besar untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
Ia berharap dirinya bersama seluruh teman seangkatannya dapat semakin siap memperdalam ilmu melalui praktik klinik sehingga kelak menjadi perawat yang profesional, beretika, dan melayani dengan kasih.
Prosesi Capping Day dan Ucap Janji Kepaniteraan tersebut pun menjadi tonggak awal perjalanan mahasiswa PROD3K STIKMA untuk mengimplementasikan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah ke dalam praktik pelayanan kesehatan yang profesional, humanis, dan berlandaskan kasih.





