
Oleh: Dorcelya Angelica DopongTonung
(Mahasiswa Semester II Prodi D3 Keperawatan STIKes Maranatha Kupang)
Halo semua! Di sini saya mau berbagi pengalaman yang menurut saya sangat berharga waktu ikut Study Tour ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang. Saya masuk dalam kelompok hari kedua, yaitu Sabtu, 21 Juni 2025.
Walaupun kami datang di hari kedua, kami tetap disambut dengan ramah oleh para petugas di sana. Kegiatan ini adalah bagian dari Mata Kuliah Manajemen Patient Safety, dan saya merasa sangat bersyukur bisa belajar langsung di lapangan.
Belajar Format EWS di Ruang Aula
Pertama, kami masuk ke ruang aula dan dibimbing oleh Pak Chandra, mentor bidang keperawatan. Di ruangan ini, kami belajar tentang Format Early Warning Score (EWS). Ternyata, EWS ini sangat penting untuk memprediksi penurunan kondisi pasien.
Kami bahkan diberi tiga jenis format EWS: untuk anak, ibu hamil, dan dewasa. Setelah dijelaskan, kami langsung praktik mengisi format berdasarkan kasus yang diberikan. Saya jadi sadar bahwa komponen seperti TTV (Tanda-Tanda Vital) itu sangat penting, dan meski terlihat sederhana, bisa berbahaya kalau sampai diabaikan. So… jangan lalai ya teman-teman!
Masuk ke Ruang Mutis dan Pakai APD Lengkap!
Setelah dari aula, kami belajar di Ruang Mutis, tempat perawatan pasien kemoterapi. Di sini, kami diajarkan mencuci tangan (bersih dan steril), cara memakai dan melepas APD, dan melihat langsung proses kerja perawat.
Kami juga lihat tempat pencampuran obat yang dilakukan oleh apoteker. Obat dimasukkan ke infus, dicek ulang oleh perawat dengan teknik 6 benar, lalu diberikan ke pasien. Obat dalam bentuk infus itu dibungkus plastik untuk menghindari paparan sinar UV—baru tahu saya!
Yang penting juga, di ruang ini kita harus pakai APD lengkap, karena obat-obatnya bisa berbahaya jika kena kulit atau mata. Sampah di sini dibuang dalam plastik ungu dengan label sitostatik, beda dari sampah medis biasa. Kami juga lihat spoel hoke, tempat merendam linen yang terkontaminasi.

Lanjut ke Ruang Tulip: Ruang Isolasi
Dari Ruang Mutis, kami ke Ruang Tulip (ruang isolasi). Di sini saya belajar bahwa pasien dengan penyakit menular seperti TBC harus dirawat di ruang khusus. Ada tiga jenis tekanan di ruang isolasi:
- Tekanan negatif: untuk pasien TBC dan TBC RO, wajib pakai masker N95.
- Tekanan positif: untuk pasien dengan penyakit seperti lupus dan leukemia.
- Tekanan umum: untuk pasien dengan penyakit kulit seperti tetanus.
Keluarga yang mendampingi hanya boleh satu orang, dan harus pakai masker serta tidak boleh makan di dalam ruangan.

Menyusuri CSSD: Dunia Sterilisasi Alat Medis
Nah, ini ruangan yang paling saya suka: CSSD (Central Sterile Supply Department)! Di sini semua alat dari ruang operasi, IGD, dan ruangan lain dicuci, disortir, direndam dalam larutan desinfektan (1 liter air + 20 ml desinfektan), disikat, dibilas, dikeringkan, dan disterilkan.
Kami lihat alat-alat seperti:
- Mesin EtO untuk suhu rendah,
- Mesin plasma untuk bahan yang tidak tahan panas,
- Mesin steam untuk alat yang tahan panas.
Kalau label pada alat belum berubah warna dari kuning ke pink, itu tandanya belum steril dan harus diulang. CSSD juga jadi tempat lipat kasa dan stok desinfektan.

Terakhir, ke Ruang Onkologi
Kami ketemu Pak Yudo di Ruang Onkologi. Beliau jelaskan tentang unit pelayanan kemoterapi, termasuk:
- Poli Onkologi,
- Ruang Tindakan,
- Rawat inap kemoterapi (Mutis),
- Ruang isolasi.
Pasien kanker dan pasien pasca operasi ditempatkan terpisah. Kami juga diberi pertanyaan tentang jenis-jenis kanker dan… ya, kami bisa jawab, dong!
Pak Yudo bilang, kalau kami mau kerja di ruang ini nanti, harus ikut pelatihan khusus dan punya sertifikat. Beliau cerita bahwa ruang Onkologi ke depan akan dikembangkan jadi tujuh lantai—wah, luar biasa!
***
Saya sangat senang bisa ikut kegiatan ini, terutama di ruang CSSD—banyak hal baru yang saya pelajari. Terima kasih kepada dosen-dosen pembimbing dan juga kepada pihak RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang yang sudah memberikan pengalaman belajar yang luar biasa.
Sampai jumpa lagi… dan semoga suatu saat saya bisa kembali ke rumah sakit ini sebagai perawat yang sudah siap bekerja.
Editor: Saverinus Suhardin





