STIKES Maranatha Kupang

Catatan dari Pojok Ruang Edelweis: Menjadi Perawat yang Kooperatif dan Aktif

Oleh: Dorcelya Angelica DopongTonung

(Mahasiswa Semester IV Prodi D3 Keperawatan STIKes Maranatha Kupang)

Pada tanggal 19 Januari 2026, saya kembali menginjakkan kaki di RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang. Kedatangan kali ini bukan sebagai pasien maupun keluarga pasien, melainkan sebagai seorang mahasiswa praktik. Jujur, saya tidak pernah menyangka bahwa saat ini saya telah berada di titik pertengahan perjalanan ini.

Rasa takut dan malu tentu ada, mengingat saya akan bertemu dengan banyak orang baru dan berada di lingkungan yang sama dalam waktu yang cukup lama. Berbagai pertanyaan muncul di benak saya: Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana dengan orang-orang di tempat baru ini? Bukan hanya akan bertemu dengan kakak-kakak tenaga kesehatan, tetapi juga sesama mahasiswa praktik dari kampus lain. Namun, saya terus meyakinkan diri sendiri untuk tidak takut dan tetap percaya diri, karena ini adalah awal dari sebuah proses belajar selama tiga minggu. Dalam hati saya berkata, mari menikmati proses ini.

Ruang Edelweis memiliki letak yang strategis, berada di pojok antara ruang Teratai dan Mawar. Ruangan ini memiliki kurang lebih 23 tenaga kesehatan, 9 kamar, dan 21 tempat tidur, yang menjadi tempat saya dan kelompok belajar selama tiga minggu. Selama berada di ruang ini, banyak hal yang saya peroleh sebagai pribadi, banyak pelajaran baru yang saya dapatkan, dan banyak pula hal yang perlu saya perbaiki.

Kami merasa sangat dihargai dan dianggap penting oleh kakak-kakak serta ibu-ibu tenaga kesehatan di ruang Edelweis. Seiring berjalannya waktu, rasa takut yang awalnya muncul perlahan menghilang. Kami disapa dengan panggilan adik dan anak, sebuah perlakuan yang menurut saya pribadi tidak mudah didapatkan di lingkungan baru. Namun, itulah yang kami rasakan di sini. Kami juga diberikan kepercayaan untuk ikut serta dalam berbagai tindakan keperawatan, selalu mendampingi kakak-kakak tenaga kesehatan saat melakukan tindakan. Satu hal yang selalu ditekankan kepada kami adalah pentingnya bersikap kooperatif dan aktif.

Sebagai mahasiswa, sikap kooperatif dan aktif merupakan hal yang mutlak. Tanpa kerja sama, proses belajar tidak akan berjalan dengan baik, karena kami dituntut untuk mampu bekerja sama dengan berbagai profesi kesehatan, seperti perawat, bidan, ahli gizi, dan apoteker. Selain itu, jika kami tidak aktif, maka kami akan kehilangan kesempatan berharga untuk belajar. Aktif yang dimaksud adalah rajin bertanya dan tidak pernah melepaskan kata “mengapa” dari pikiran. Kami datang dengan penuh pertanyaan dan bertemu dengan kakak-kakak serta ibu-ibu tenaga kesehatan yang selalu memberikan jawaban dengan sabar dan jelas. Mereka tidak pernah bosan menjawab setiap pertanyaan kami, karena menurut mereka kami layak mendapatkan jawaban tersebut sebagai generasi penerus di masa depan.

Pengalaman pertama di ruang Edelweis menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Di ruang ini, kami langsung berhadapan dengan berbagai pasien. Seluruh pasien di ruang Edelweis merupakan pasien perempuan, karena ruang ini mayoritas menangani kasus kanker serviks, pasien onkologi kemoterapi, serta pasien pre dan post operasi. Pada minggu pertama, kami diberikan kesempatan untuk mengamati dan mengikuti kegiatan. Memasuki minggu kedua, kami mulai diberi kesempatan untuk mencoba melakukan tindakan dengan pendampingan. Pada minggu ketiga, kami kembali diberikan kepercayaan, bahkan untuk beberapa tindakan tertentu kami diperbolehkan melakukannya secara mandiri, tentunya dengan tetap berada dalam pengawasan dan selalu diingatkan mengenai prinsip enam benar, yang ternyata sangat penting demi keselamatan pasien.

Selama praktik di ruang Edelweis, kami lebih banyak dibimbing oleh kakak-kakak dan ibu-ibu bidan. Apabila kami melakukan kesalahan, mereka tidak menegur kami di depan pasien, melainkan memberikan arahan dan evaluasi setelah tindakan selesai. Hal tersebut membuat kami merasa dihargai dan semakin termotivasi untuk belajar dengan lebih baik.

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Ibu Kepala Ruangan yang telah memberikan ruang Edelweis sebagai tempat kami belajar dan mencoba. Terima kasih juga kepada Clinical Instructor (CI) yang selalu membimbing kami, serta kepada seluruh kakak-kakak dan ibu-ibu bidan yang dengan sabar memberikan kesempatan kepada kami untuk belajar. Saya juga memohon maaf apabila selama tiga minggu praktik terdapat banyak kesalahan yang kami perbuat.

Pengalaman ini saya rangkum dalam satu kalimat: “Datang membawa 10, pulang membawa 1000.”

Kabar Sekolah Lainnya